Senangnya Hasna punya kesempatan ngobrol sama dokter Danar, runner up L-Men Of The Year yang juga berprofesi sebagai dokter. Hasna pengen tahu nih, apa ya kira-kira hobi dan kegiatan Dr. Danar sehari-hari. Kayak apa sih kepribadiannya? Yuk ikutin percakapan wawancara Hasna bareng dokter tampan satu ini.

Hai dokter Danar, ceritakan dong kesibukan kamu lainnya selain menjadi dokter apalagi setelah mengikuti L-Men 2019?

Halo juga Hasna. Kebetulan aku sekarang lagi ada beberapa kesibukan tapi yang utama masih menyelesaikan studi aku di Program Pendidikan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi. Kalau sebelumnya namanya dokter spesialis kulit dan kelamin hehehe. Selain itu juga sekalian ambil double degree MSc. in Clinical Science. Dua duanya di Universitas Gadjah Mada.

Di sela-sela itu aku masih sempetin jadi health influencer lewat platform Instagram aku dengan hashtag #laribarengdrdanar, jadi pembicara di beberapa seminar nasional dan collab bareng beberapa pihak untuk buat kegiatan yang intinya sama sih ngajak masyarakat untuk hidup sehat.

Aku juga lagi merintis social enterprise yang ngajak temen-temen disabilitas. Temanya masih aku kaitkan dengan healthy lifestyle yaitu tentang healthy snacking. Ternyata ngemil itu harus lo kalo mau hidup sehat hehe. Kalo mau kepo bisa lihat Instagram @vittenan ya, Hasna.

Sisanya, aku persiapan untuk marathon di beberapa kota di Indonesia dan nanti inshaAllah sambil menggalang dana juga untuk pejuang kanker sama temen-temen @milestoshare

Bagaimana sih cara mengatur waktu seorang Danar Wicaksono ditengah kesibukan saat ini?

Aku selalu kerjain sesuatu berdasarkan prioritas. Mana yang lebih penting aku lakuin dulu. Tapi tetep balance antara kerjaan dan me time. Selain itu aku berusaha untuk ngga nunda-nunda pekerjaan biar ngga numpuk di akhir. Prinsip aku si kerjaan beres dan harus sehat seutuhnya fisik dan mental hehe

Kalau Hasna boleh tahu, apakah menjadi seorang dokter cita cita kamu dari dulu? Dan apa alasan kamu memutuskan untuk menjadi dokter?

Iya tapi prosesnya cukup panjang juga. Aku mulai dari cari tahu potensi aku, dulu aku nilainya bagus di Biologi. Terus aku cari kelemahan aku, yaitu matematika dan fisika, hehehe. Dan aku juga suka berinteraksi dengan orang. Jadi aku ngerasa mungkin cocok di bidang kedokteran. Setelah itu aku ikut psikotes dan alhamdulillah cocok kalo masuk kedokteran. Ya jadi deh sampe sekarang. Aku rasa penting ya untuk anak-anak muda sekarang tau apa yang mereka bener-bener pengen kerjain di masa mendatang karena kalo ngga passion pasti bakal males-malesan ntar. Kalo kenapa aku pilih ambil spesialisasi kulit dan kelamin karena dulu pas kecil pernah liat ada tetangga yang sakit vitiligo dan suka jadi bahan candaan sama pas baru banget lulus dokter. Aku juga pernah kerja di pedalaman Maluku Utara, di sana masih banyak pasien kusta yang ngga tertangani dengan baik, selain itu di dokter spesialis kulit range pasiennya juga luas banget dari bayi baru lahir sampe kakek nenek. Jadi lebih bervariasi ketemu pasiennya.

Andaikan seorang Danar Wicaksono bukan menjadi dokter saat ini, kamu bakal melihat diri kamu menjadi apa saat ini?

Mungkin jadi travel blogger yang keliling dunia, hehehe. Sejauh ini aku sudah traveling ke 37 negara dan kebanyakan solo-travel. Aku nikmatin banget saat-saat di jalan pas traveling. Ketemu banyak orang dengan latar belakang yang beda, culture, dan kebudayaan

Atau mungkin jadi atlet tennis…hahaha!

Boleh Hasna tahu, impian terbesar Danar saat ini?

Ngga muluk-muluk. Aku pengen semua yang aku kerjakan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Misalnya nanti pas udah selesai studi dan jadi dokter spesialis kulit, pengen banget kembali ke daerah Maluku Utara tempat aku kerja dulu dan ngasi pelayanan kesehatan khususnya untuk para penderita kusta sambil mengedukasi masyarakat di sana agar tidak men-stigma penderita kusta. Dari #laribarengdrdanar aku berharap lebih banyak lagi generasi muda Indonesia yang sadar untuk hidup sehat karena sedikit banyak masa depan bangsa itu dipengaruhi oleh generasi muda, bayangkan jika nantinya sakit-sakitan? Lewat Social Enterprise aku ya harapannya bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih luas untuk temen-temen disabilitas karena ya emang sayangnya pilihan pekerjaan untuk mereka sekarang ngga banyak, padahal mereka itu bukan ngga mampu lho tapi emang butuh lebih difasilitasi aja untuk berkarya.

Other than that, aku masih pengen melihat dunia lebih luas lagi. Dunia itu luas, jangan di rumah saja dong.

Hasna lihat di media sosial, Danar cukup sering traveling ya, tempat paling berkesan yang pernah kamu kunjungi itu apa sih? Dan kenapa?

Myanmar. Culturenya masih sangat kental dan temple-nya. Di sana belum semaju di sini, tapi justru itu yang jadi kelebihannya. Jadi kalo kita nyasar ya mau ngga mau harus nanya orang. Lebih banyak interaksi sama penduduk lokal. Dan kita juga lebih banyak ngobrol sama temen traveling kita. Jadi tidak melulu ngandelin teknologi. Selain itu aku juga suka Siem Reap, Kamboja. Temple-nya cantik-cantik banget di sana dan juga makanannya enak.

Danar  ternyata seneng lari dan pernah ikut Bali Marathon juga, bisa ceritain ga pengalaman saat mengikuti Bali Marathon? Dan berapa lama persiapannya?

Oh iya, that’s actually my virgin full marathon.

Aku emang punya target mau ikut full marathon tapi mungkin baru di tahun 2020 lah. Jadi kemarin itu bisa dibilang mendadak dan latihan juga masih santai. Tapi kemudian aku sadar saja kalo waktu itu irreversible dan who knows kan besok bakal kejadian apa, lusa bakal gimana, bulan depan gimana.

Total latihannya satu bulanan. Aku emang sebelumnya udah rutin tapi ya lari 42 km itu ngga main-main. Harus dengan persiapan matang. So, setelah konsultasi sama beberapa pakarnya, akhirnya aku mulai latihan di tengah kesibukan pendidikan dokter spesialis dan S2 Clinical Science yang lagi aku tempuh. Nekatnya lumayan banyak. Tapi setelah semua kejadian baru aku sadar, kadang kita butuh NEKAT factor tadi to spice up our life, hahaha. Tapi jangan sampai modalnya hanya nekat ya.

Sejak semalemnya aku susah tidur dan batuk-batuk karena nervous. Memang bawaannya begitu dari lahir. Pas hari race-nya aku datang cuma pengen finish aja, buat kepuasan pribadi. Seenggaknya mengalahkan keraguan diri sendiri lah. Kadang sebenernya, musuh terbesar adalah diri sendiri kan. Aku ngga mau sampai kalah. Kilometer demi kilometer akhirnya dilariin juga. Mulai kilometer 30an mulai lah mempertanyakan diri sendiri sambil setengah nyesel. Ngapain ini lari-lari di siang bolong mendingan enak istirahat bobok bobok. Itulah…dalam kita meraih cita-cita pasti ada aja halangannya dalam berbagai macam bentuk. Tetep maju dan yakin sama diri sendiri!

Mendekati km 40 kaki aku sedikit-sedikit keram. Yah mau ngga mau dibawa jalan. Nanti keramnya hilang, aku coba bawa lari lagi. Dari situ aku belajar ngga selamanya kita harus gas poll terus lo. It’s okay buat kita memperlambat langkah. Yang penting ngga berhenti dan menyerah.

Tidak semua pelari itu harus marathon menurut aku, harus h kemampuan sama batasan-batasan diri sendiri. Tapi aku seneng banget bisa ikut marathon karena bikin aku lebih pede untuk ikut event event marathon berikutnya dan aku makin seneng setelah gabung di @milestoshare yang lari full marathon sambil menggalang dana untuk pejuang kanker. Alhamdulillah di event Borobudur Marathon, kami berhasil menggalang lebih dari 150 juta dan sekarang sudah jadi satu kamar tambahan di Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia di Surabaya. Dari situ aku belajar bahwa kita tidak harus jadi orang kaya dulu untuk berbuat baik.

Danar selalu tampil segar dan sepertinya fit banget. Bagaimana cara kamu grooming? (perawatan wajah apa saja dan olahraga apa) ?

Intinya aku nerapin pola hidup sehat. Sebisa mungkin eat clean, batesin goreng-gorengan dan konsumsi gula garam lemak secukupnya. Terus olahraga lari seminggu 3 kali masing-masing sekitar 45 menit-1 jam, kadang-kadang aku selipin main tennis sama temen-temen dokter juga. Nah, ini wajib kalo aku tidur harus 8 jam, kalo tidak besoknya pasti lemes dan kurang produktif. Jadi kerjaan-kerjaan sebisa mungkin aku selesein siangnya biar di rumah, lalu tinggal istirahat.

Buat perawatan wajah aku kebanyakan pakai racikan aku sendiri karena kulit aku ini lumayan rewel, sering bruntusan kalau pakai perawatan yang ada di pasaran. Hasna kalau mau coba boleh nanti, hehehe. Tapi yang paling penting itu sebenernya pakai pelembab dan sunscreen SPF 50 dan diulang setiap dua jam karena mayoritas gejala penuaan itu karena sinar UV lho!

Berbicara style, dalam keseharian outfit wajib seorang Danar Wicaksono itu apa sih?

Kalo di rumah sakit ya harus ikut aturan rapi. Biasanya pake chinos yang slim fit, kemeja sama jas dokter. Tapi sebenarnya aku tipe orang yang ngga suka ribet. Kalo sehari-hari lebih suka pake kaos polos, jeans skinny, sama sneakers

Mewakili si Cantik, Tipe cewe Danar seperti apa sih?

Dewasa, mandiri, adventurous, tidak merokok, dan suka olah raga.

 

Gimana Cantik, kamu tipe dokter Danar gak?

 

IR-VA / Foto: Instagram @dr_danar