Cantik, bagi kamu yang suka nonton film pendek berlatarbelakang budaya, jangan sampai melewatkan film “The Woven Path” dan “Perempuan Tana Humba”. Keduanya adalah film pendek dokumenter terbaru produksi Tanakhir Films, yang disutradarai oleh Lasja F. Susatyo dan diproduseri oleh Mandy Marahimin. Film yang didanai dari grant Ford Foundation ini adalah film dokumenter ke-5 arahan Lasja F. Susatyo.

Dalam Gala Premiere film The Woven Path: Perempuan Tana Humba yang telah dilaksanakan pada Jumat, 10 Mei 2019 di Plaza Indonesia, acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh para aktris dan seniman Indonesia di dua studio berbeda secara bersamaan.

Puisi-puisi yang dibacakan tersebut adalah puisi-puisi karya Diana Timoria. Puisi berjudul Perempuan Sabana (1) dibacakan oleh Wulan Guritno dan Kelly Tandiono. Puisi Perempuan Sabana (2) (Untuk Tana Humba) dibacakan oleh Maudy Koesnaedi dan Dian Sastrowardoyo. Serta puisi Perempuan Sabana (3) dibacakan oleh Nirvani Amabel Ananda (Putri dari Sumba) dan Adinia Wirasti.

“The Woven Path” yang berdurasi 10 menit merupakan film dokumenter bertema dua puisi bertema IBU yang ditulis oleh dua penyair dari dua generasi berbeda, Diana Timoria dan Umbu Landu Paranggi, sementara “Perempuan Tana Humba” berdurasi 30 menit, menceritakan tentang tradisi dan budaya Sumba serta dampaknya terhadap perempuan.

Film ini bercerita dalam tiga babak, yaitu Marapu, Belis, dan Perkawinan. Melalui babak Marapu, kamu akan diajak mengikuti rangkaian upacara di Sumba mulai dari ritual perkawinan hingga ritual kematian. Melalui rangkaian ritual tersebut, penonton diharapkan dapat memahami betapa pentingnya tahapan-tahapan ritual yang menjadi tradisi masyarakat Sumba.

Dalam babak Belis, kita akan mengikuti secara detail apa yang disebut Belis, atau mas kawin dalam bahasa Sumba. Sistem yang terjadi lebih dikenal sebagai system jual beli, di mana setelah pemberian belis pengantin perempuan menjadi hak dari keluarga pengantin laki-laki. Melalui babak ini kita akan melihat bagaimana pengaruh belis terhadap posisi perempuan Sumba dalam keluarga dan masyarakat. Babak Perkawinan merupakan babak yang menunjukkan bagaimana ritual perkawinan dijalankan di Sumba, dan apa dampaknya bagi peran perempuan dalam keluarga.

“Saya ingin mengangkat tema perempuan dalam adat tradisi di Sumba (timur) hari ini, terutama kaitannya dengan belis (mahar) dan perkawinan yang kerap masih sangat memberatkan. Perubahan dan perbaikan tak terelakkan, seiring dengan kemajuan zaman. Namun  perbaikan harus dilakukan dengan bijaksana karena tatanan satu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan lainnya. Film ini bermaksud membagi pengalaman para ibu Sumba dan mengangkatnya dalam puisi mengenai perempuan, ibu, dan Ibu Pertiwi,” ungkap Lasja F. Susatyo, sang sutradara.

“Saya selalu cinta dengan Tana Humba. Alamnya, tenunnya, masyarakatnya, dan budayanya. Jadi ketika Lasja mengajukan ide film ini, saya langsung menyetujuinya. Harapan saya film ini bias menunjukkan betapa indahnya Sumba, dan juga membuka diskusi tentang posisi perempuan di sana,” jelas Mandy Marahimin sebagai produser.

Film ini didukung oleh NurHidayat sebagai sinematografer, Wawan I. Wibowo sebagai editor, Thoersi Argeswara sebagai penata musik, Satrio Budiono sebagai penata suara, Olin Monteiro sebagai peneliti, Jefri Nichol dan Aurora Ribero sebagai pembaca puisi. Film ini diharapkan dapat menggugah kesadaran mengenai peran perempuan dalam tradisi dan masyarakat.

Pemutaran film The Woven Path: Perempuan Tana Humba yang disertai dengan diskusi direncanakan akan mulai dilakukan ke sekolah-sekolah di Sumba dan seluruh Indonesia pada bulan Juli 2019. Pantau terus akun media sosial @tanakhirfilms untuk mengikuti informasi terkini mengenai film The Woven Path: Perempuan Tana Humba atau menghubungi email: [email protected] jika ingin melakukan pemutaran dan diskusi.

 

IR / Foto: Dok: Tanakhir Film