Yang udah nonton acara live Debat Capres ke-4 Sabtu malam lalu pasti nggak asing lagi dengan wajah Si Tampan Zulfikar Naghi, Sang Moderator. Tepat sehari sebelum acara Debat Capres dimulai, Hasna berhasil menemui Zoel-demikian panggilannya, yang sedang santai di hotel Shangri-La Jakarta menjelang Gladi Resik Debat Capres. Zoel terlihat sangat menarik dan sopan saat menerima kedatangan Hasna, padahal waktu itu masih jam 10 pagi. Hasna kagum banget dengan sosoknya yang humble dan ramah. Zoel banyak bercerita soal pribadi dan perjalanan karirnya. Penasaran kan? Yuk simak obrolan Hasna bersama Si Tampan Zoel yang mungkin jadi pria idaman kamu.

Gimana nih perasaannya tiba-tiba terpilih sebagai moderator Debat Capres putaran 4?

Awalnya sudah ada nama lain dan bukan aku, tapi tiba-tiba ada perubahan nama dari KPU setelah mereka mengadakan meeting internal. Pas hari Senin tanggal 25 Maret 2019 itu keputusannya, nah aku masih santai aja karena aku pikir masih banyak presenter senior di atas aku. Dan nggak terpikir apa-apa saat itu. Sampai akhirnya aku dapat memo dari KPU secara resmi, tapi aku langsung baca dari bawah yang ada nama host-nya, dan aku lihat itu bukan namaku. Tapi kok aku terima banyak ucapan congrats, ketika aku baca ulang dari atas, ternyata nama moderatornya tertulis namaku dan Retno Pinasti. Aku langsung kaget dan nggak percaya. Wah bersyukur banget. Hari Senin malam aku ditelpon KPU dan nggak bisa tidur malam itu, hehehe. Persiapanku memantapkan diri, menata mental dan menata hati. Ini tugas negara.  Bismillah.

Selama jadi news anchor apa manfaat yang sudah didapatkan?

Aku itu pada dasarnya introvert, pemalu dan nggak pede. Tapi tuntutan profesi  menwajibkan aku untuk harus berinteraksi dengan narasumber, sesama teman seprofesi. Jadi nggak menutupi aku harus berbagi informasi. Jadi aku belajar untuk membuka diri dan menerima semua kritikan dan masukan.

Dulu kamu sempat keluar dari karier jurnalistik dan beralih profesi menjadi pramugara? Gimana tuh ceritanya?

Aku sempet dua tahun menjadi pramugara di Hong Kong untuk Cathay Pacific. Padahal saat itu karier aku sedang naik di Trans TV. Jadi aku sempat merantau di Hong Kong selama dua tahun, tapi sering merasa homesick dan kangen jadi jurnalis. Dan aku baru sadar, kok kerja jadi pramugara, I don’t find any satisfaction and happiness. Karena kerjanya rutinitas banget. Pas tahun 2012 aku cuti satu bulan dan pulang ke Indonesia. Singkat cerita, aku diajak oleh Tina Talisa untuk gabung ke grup SCTV dan Indosiar, tapi saat itu aku nggak bisa terima karena masih terikat pekerjaan sebagai pramugara. Tawaran itu sempat hilang dan nggak ada kabarnya lagi. Tiba-tiba, pas tahun baru 2013 nggak sengaja ketemu Tina Talisa lagi di pesawat pas aku lagi tugas. Akhirnya di follow up lagi dan sempat tarik ulur. Akhirnya deal di Februari, dan tanggal 3 April 2013 aku langsung aktif di Indosiar sampai sekarang.

Pernah nggak mengalami hal-hal yang nggak mengenakan sebagai news anchor?

Aku sih menganggap sebagai pembelajaran dan bukan hal buruk. Aku sempat harus live report pas nggak enak badan hasilnya jadi berantakan dan pas dievaluasi buruk banget. Aku sempat disalahkan waktu itu, sejak itu aku ‘dendam’ dan dalam hati bilang, “Awas ya suatu saat nanti gue bakal nunjukin gue bisa lebih baik lagi”. Kebetulan pas ada bencana gempa Padang tahun 2009 aku dikirim ke sana, dan diminta live report setengah jam, disinilah momen titik balik di mana aku nunjukin bahwa aku bisa. Dan Alhamdulilaah, I did it very well. Dari situ akhirnya kantor percaya lagi, jadi setiap kali ada bencana, aku yang live report.

 

Sebagai anchor, kamu dituntut untuk profesional dan tersenyum, gimana cara ngatasinnya kalo lagi bad mood?

Tergantung situasi dan kondisi kapan harus tertawa dan tidak, misalnya kalo ada bencana nggak perlu lah harus senyum atau tertawa, beda halnya pas aku lagi live report Pak Jokowi Mantu selama 5 jam, aku harus bisa improvisasi dan tersenyum, walaupun capek, bete, atau kaki pegel, harus ada aktingnya juga karena penonton nggak mau tahu itu kan. Jadi harus tetap profesional.

Apakah kamu termasuk orang yang peduli dengan penampilan? Apa yang biasa dilakukan agar selalu terlihat menarik dan tampan?

Banget. Tapi untuk perawatan aku nggak seheboh kalo dibandingin temen-temen aku ya. Karena untuk di depan layar, look yang dilihat. Jadi kalo abis pulang liputan panas-panasan muka jadi dekil, aku biasanya treatment dan pakai krim malam dari dokter. Tapi pas muka udah normal dan bagus lagi, aku jadi males pakai. Kebetulan aku punya saudara dokter kecantikan yang bisa dipanggil ke rumah, jadi dia bawa alat-alatnya buat aku perawatan di rumah. Biasanya sebulan sekali. Tapi sejak pernah kena flek hitan besar di muka, aku jadi rajin pakai sunblok. Karena pekerjaan aku banyak outdoor.

Deskripsikan penampilan ala Zulfikar dalam 3 kata?

Casual, Smart, and Fun.

Fashion yang paling Big No No buat kamu?

Aku paling nggak pede kalo pakai kemeja yang dilapis sweater di luar. Nggak tau kenapa aku paling nggak mau pakai itu. Aku mending pakai kemeja, blazer, atau jaket.

Bagaimana menurut kamu tentang perempuan #BaikdanCantik?

Z: Pertama harus dilihat dari attitude-nya, jika hatinya baik otomatis outputnya juga akan baik dan terlihat cantik. Nggak mungkin orang yang hatinya baik akan bertindak tidak baik. Untuk look juga penting, tapi bukan segalanya. Jadi menurut aku, kalo mau jadi perempuan yang baik dan cantik, benahin dulu hatinya, untuk look bisa perawatan dan diubah. Jadi kalo hatinya sudah baik, fisik bisa mengikuti.

Siapa perempuan baik dan cantik yang kamu gambarkan tadi?

Ibu aku. Karena aku nggak pernah lupa semua nasihat yang diberikan ibuku. Seperti harus selalu sholat, berdoa, bekerja dengan ikhlas, dan hasilnya akan mengikuti. Semua yang terjadi pasti berkat doa ibuku.

Apakah menjadi moderator Debat Capres ini menjadi salah satu great achievement kamu?

Yes! Karena aku nggak pungkiri, dari semua jurnalis, news presenter atau news anchor, salah satu pencapaian yang ingin dicapai adalah tugas ini. Tapi untuk aku pribadi, aku hanya menjalankan tugas yang aku terima, dan tidak berambisi harus mendapatkan ini atau itu. Aku hanya berpikir ini adalah hasil yang dari kerja terbaik aku selama ini.

Bagaimana kamu menjaga stamina dengan banyaknya aktivitas dan pekerjaan?

Aku nge-gym atau lari di Car Free Day. Jaga makanan juga tapi kadang ‘nyampah’ juga sih, hehehe. Asal jangan sampai overweight, karena nanti nggak enak kalo dilihat di depan layar TV.

Pesan apa yang mau kamu sampaikan pada para milenial untuk pemilihan Capres dan Cawapres?

Aku cuma mau sampaikan untuk milenial yang sekarang digital banget, agar bisa melihat secara keseluruhan bagaimana rekam jejak dari masing-masing pasangan calon. Jadi jangan terpengaruh dengan viral di sosial media. Jadilah generasi milenial yang smart, dan bisa melihat calon-nya secara objekif.

Next goals?            

Belum kebayang. Aku juga nggak mengejar jabatan di kantor. Sekarang aku sudah menjadi executive producer, dan yang terpenting bekerja dengan baik, ikhlas, dan happy. Untuk promosi jabatan aku serahkan ke kantor aja. Untuk sekarang aku sudah sangat bersyukur bisa jadi news anchor dan terpilih menjadi moderator. Untuk ke depannya aku jalanin aja.

Yes Cantik, itu tadi wawancara Hasna dengan Si Tampan yang baik hati dan pintar Zulfikar Naghi. Kamu bisa kepoin IG nya di: @zoelnaghi.

 

IR / Foto: Surai-Hasna.ID / Lokasi: Shangri-La Hotel, Jakarta.