Bayangkan sebuah bukit yang indah dipenuhi para penari. Tepatnya 1500 penari. Ya, Festival Fulan Fehan digelar di bukti Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur sungguh bikin decak kagum. Bahkan tahun lalu berhasil memecahkan rekor MURI dengan 6000 penari. Tapi tahun ini gak kalah seru lho, Cantik. Hasna hadir menyaksikan festival ini atas undangan Platform Indonesiana, bagian dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di tahun kedua ini, koreografer berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menampilkan tarian Antama (berburu) dipadukan dengan tarian Likurai.

            “Festival Fulan Fehan 2018 ini kami fokuskan pada salah satu desa di Kecamatan Lamaknen, yaitu desa Weluli, yang menceritakan tentang adat serta apa itu sebenarnya Fulan Fehan itu sendiri,” ujar Eko Supriyanto, sang koreografer.

            Kamu tahu gak, Cantik, berikut 3 hal ‘cantik’ yang Hasna temukan di festival itu.

 

  1. Bukit Fulah Fehan

Fulan Fehan adalah nama sebuah bukit di Kabupaten Belum yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Jaraknya dari Kota Atambua sekitar 40 kilometer dan perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

  1. Kaya Tradisi

Hasna melihat bagaimana masing-masing penari memiliki ritual tersendiri. Contohnya, ada yang berdoa sebelum mengikatkan selendang. Ada pula prosesi Bibit Padi, di mana seorang anak yang membawa padi yang akan ditanam misalnya, harus membaca mantra yang disebut makoan, diiringi dengan pembawa gong, payung, dan tombak.

  1. Tari-tarian: Antama, Likurai, Tari Selendang

Berbagai tarian daerah ada di festival ini nyusul menyusul. Dari balik bukit tahu-tahu ada serombongan remaja berlari dengan selendang mereahnya. Ada pula tarian Antama, tarian yang menggambarkan peperangan, karena itu para penari membawa tombak dan menggambarkan tarian suka cita menang mendapat hasil berburu. Saat tiba puncak acara festival ini, digelar Tari Likurai dengan dua bagian, yaitu deretan pria membawa tombak, sementara perempuannya membawa gendang. “Jika dibandingkan tahun sebelumnya, tujuan kami adalah mengangkat tarian Likurai itu sendiri yang merupakan ciri khas dari masyarakat perbatasan khususnya Rai Belu itu sendiri,” jelas Eko.

  1. Kain Tenun

Penari masing-masing bangga dengan kain tenun yang berbeda Malah ada alunan musik bambu dengan deretan penenun yang diringi para penari membawa hasil kain tenun. Berjejer Si Cantik dan Si Tampan bak peragaan busana. Keren deh.

 

  1. Penarinya

Wajah cantik Indonesia khas NTT dengan kulit sawo matang dan mata lebar para penarinya, semakin cantik menonjol dengan riasan tipis dan kostum tradisional mereka. Ini sungguh bikin kagum dan bangga!

“Kami berharap agar pada tahun 2019 nanti akan ada lagi penampilan baru, seperti yang ditampilkan pada Festival Fulan Fehan tahu kedua ini, “ ujar Sri Hartini, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

FB / Foto: Dok. Hasna